Kenangan Nenek, Pengingat Akan Cintanya

11/11/2017 10:56:00 PM

Aku menemukan foto-foto ini saat bongkar barang-barang peninggalan nenekku, satu tas tangan penuh. Nenek senang sekali menyimpan hal-hal kecil yang terkadang biasa saja bahkan cenderung tidak berguna (bagiku, awalnya), tetapi bagi nenek barang-barang ini mungkin bernilai sentimental. Foto-foto zaman baheula, potongan artikel koran, undangan makan malam Imlek tahun 1999, angpao bekas dari entah tahun berapa, ijazah kusam milik nenek di SD Soetomo III sampai Akte Kelahiran tahun 1953.
Foto pernikahan (Nenek masih kecil, disebelah kiri pengantin, yang memegang dompet kecil).
Nenek dan Kakek sedang berdoa.
Setelah kepergian nenek tahun 2005 silam, barang-barang ini menjadi pelipur rindu bagi kami cucunya untuk mengenang kembali kasih sayang dan cinta nenek. Apalagi bagiku, cucu pertamanya, aku memiliki banyak sekali kenangan bersama nenek. Saat aku dimarahi oleh orang tuaku, neneklah yang membelaku, sekalipun aku telah melakukan kesalahan. Menyiapkan dupa sembahyang almarhum kakek. Mengumpulkan kerak lilin dan menlelehkannya menjadi lilin yang baru. Membantunya mencabut uban. Berkunjung ke sanak saudara saat Imlek. Membantu memasak nasi goreng kesukaanku, yang cabe dan bawangnya selalu hampir hangus.
Nenek Kakek dan beberapa tetangga mereka.
Suasana menerima tetangga saat Imlek.
Satu kenangan tentang nenek yang tak akan terlupakan olehku sampai saat ini, dua tahun sebelum nenek meninggal dunia, beliau menjadi mualaf. Nenek belajar sholat dan puasa. Saat Ramadhan kedua nenek, seperti Ramadhan sebelumnya, beliau memintaku membuatkan doa niat dan berbuka puasa di secarik kertas. Namun, seminggu sebelum Ramadhan tiba, tepatnya di hari Juma'at, aku mendapat kabar nenek jatuh pingsan saat ingin pergi belanja dan dilarikan ke rumah sakit. Allah punya rencana lain untuk keluarga kami, setelah adzan pertama sholat Jum'at, nenek menghembuskan nafas terakhirnya dan berpulang ke Rahmatullah dengan tenang.

Nenek yang selama ini tinggal dengan kami telah tiada, keluargaku dirundung kesediahan yang amat dalam. Pertama kalinya dalam hidupku, aku kehilangan orang yang aku sayangi, sakit sekali rasanya. Kertas berisi niat dan doa puasa itu masih kusimpan sampai saat ini sebagai pengingat akan cinta beliau. Cinta kedua setelah orang tuaku.
Serba-serbi kertas yang nenek simpan.
Ijazah dan Akte Kelahiran nenek yang masih disimpannya.
Membuka dan melihat kembali barang-barang peninggalan nenek, aku menyadari satu hal, mengapa nenek selama hidupnya mengumpulkan barang-barang remeh temeh itu agar kelak sebagai pengingat (kenangan) bagi kami, generasi selanjutnya. Sebagai pengingat bahwa beliau pernah ada dan sangat menyayangi keluarga kami. Meskipun barang-barang ini akan hancur termakan waktu, tapi cinta nenek akan terus hidup di hati cucu-cucunya.

You Might Also Like

0 komentar