Napak Tilas #JenjalanWiken : Rumah Tjong A Fie, Kesawan.

2/04/2018 07:51:00 PM

Bertahan terhadap gempuran zaman bukan perkara yang mudah bagi peninggalan sejarah di kota besar seperti Medan ini. Maraknya perkembangan bangunan modern dan ketidakacuhan edukasi masyarakat akan pentingnya situs sejarah memperparah keadaan situs-situs peninggalan sejarah di kota ini. Tergerus dan hancur dimakan zaman. Seperti kita lihat bersama di sekitaran Kesawan, bangunan-bangunan bersejarah itu mulai hancur dan digantikan dengan bangunan baru yang lebih modern. Hanya tersisa segelintir saja yang masih mempertahankan gaya arsitektur khas peninggalan Belanda, seperti Gedung AVROS, Gedung Lonsum dan deretan Tip Top Restaurant.

Bersantai di Tempat Makan Cepat Saji, Daerah Kesawan. (Jangan ditiru, kurang baik untuk kesehatan.)
Beberapa hari lalu, saat saya sedang mengaso di tempat makan cepat saji di Kawasan Merdeka Walk yang kebetulan berseberangan dengan Gedung Lonsum. Pikiran saya terlempar ke beberapa puluh dekade lalu, saya menerka-nerka apa saja yang telah terjadi di sekitar kawasan ini, hiruk pikuk kehidupan pada zaman Belanda dahulu. Kemudian saya juga membayangkan apa jadinya nasib bangunan-bangunan ini di kemudian hari, tiga puluh atau lima puluh tahun lagi, apakah masih tetap berdiri kokoh dan terurus? Mengingat sekarang saja telah banyak bangunan di sekitar kawasan ini telah hancur dan berganti dengan bangunan modern.

Di Kesawan Masih Banyak Bangunan-Bangunan Tua Peninggalan Belanda.
Gedung AVROS ((Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatera atau Asosiasi Pemilik Perkebunan Karet di Pantai Timur Sumatra).
Gereja Katedral Medan.
Tepat pukul 2 sore, di bawah matahari yang sedang terik-teriknya, berbekal sebotol air minum, saya pun berjalan kaki menyusuri kawasan tersebut, mengambil beberapa gambar bangunan tua ini. Saya berkeliling dari mulai gedung Lonsum masuk ke Pasar Hindu. Terpaksa putar balik karena jalan ini ternyata buntu dan mentok ke sungai Deli. Berbelok ke Mesjid Lama Gang Bengkok, menyusuri Jalan Mesjid tempat segala jenis onderdil motor dijual di sini. Masuk ke jalan-jalan kecil yang dipenuhi usaha percetakan rumahan, lalu sampai di gedung AVROS dan Gereja Katedral Medan.

Sadar telah berjalan cukup jauh dan melelahkan, saya memutuskan kembali ke Lapangan Merdeka dengan menyusuri Jalan Balai Kota. Melewati ruko-ruko yang sederet dengan Tip Top Restaurant. Belum sampai di restauran legendaris tersebut, saya melihat di seberang jalan sebelah kanan terdapat plang yang tidak terlalu besar bertuliskan "Tjong A Fie", saya telah lama mengetahui Tjong A Fie Mansion ini, tetapi belum pernah masuk dan melihat-lihat seperti apa dalamnya. Kesempatan ini saya gunakan untuk mengunjungi salah satu komplek bangunan yang masuk ke dalam 10 tempat wisata bersejarah di Indonesia.

Tike Masuk Tjong A Fie Mansion.
Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp. 35.000, kita dibebaskan mengekplorasi tempat wisata bersejarah yang dibuka untuk umum mulai pukul 9 pagi sampai 5 sore setiap harinya ini. Kesan tempo doeloe sangat berasa ketika memasuki areal ruang depan rumah ini, seperti masuk ke dimensi masa lalu. Dari penjelasan tour guide yang tersedia disana, kediaman Tjong A Fie dan istri ketiganya, Lim Koei Yap ini selesai dibangun pada tahun 1900. Menjadi kaya raya dan sukses di bidang perdagangan dan usaha perkebunan tak membuat Tjong A Fie menjadi pongah, beliau tetap bersahaja dan dermawan kepada setiap kalangan, seperti turut berkontribusi dalam pembanguan tempat-tempat ibadah. Atas kontribusinya, Tjong A Fie diangkat menjadi Mayor, setara Walikota, oleh pemerintah Hindia Belanda.


 
 


 



 

Tjong A Fie Mansion seluas 8.000 meter persegi, dibangun pada tahun 1895 dan selesai tahun 1900.
Puas berkeliling Tjong A Fie Masion yang telah menelan saya seperti kembali ke era Hindia Belanda, saya pun berjalan ke Lapangan Merdeka dengan hati yang lega, setidaknya masih ada bangunan bersejarah yang dapat dikenang oleh generasi setelah kita, mengingat Tjong A Fie Mansion ini benar-benar dikelola serius oleh keluarga Tjong A Fie sendiri dan dukungan pemerintah tentunya. Harapannya semoga pemerintah tidak menutup mata akan keberadaan bangunan-bangunan bersejarah yang hampir rusak dan tidak dikelola dengan baik lainnya.

You Might Also Like

0 komentar