Tentang Perjalanan Ke Jogja : Mensyukuri "Sekarang", Kini Disini.

2/20/2018 09:49:00 AM

Beberapa hari lalu, aku mengunggah sebuah foto di sosial media.

A post shared by Hardi Nasti-Wang (@nastiwang) on

Sebuah perjalanan dari Punthuk Setumbu ke Bukit Rhema. Ketika itu, aku telah letih berjalan sangat jauh menempuh medan yang berbukit-bukit untuk mencapai ke satu titik yang kusebut tujuan, sebuah gereja unik di Bukit Rhema. Kekecewaan pun muncul saat tiba disana.

"Berjalan jauh-jauh demi seporsi singkong rebus, hal yang begitu kecil, gak worth it," umpatku kesal.

What do I expect?

***

Sebagai seorang karyawan yang hanya mengandalkan hari Minggu sebagai waktu untuk menyegarkan pikiran dan tentunya 12 hari jatah cuti tahunan. Aku diharuskan merencanakan liburan berbulan-bulan sebelumnya karena susahnya prosedur pengambilan cuti.

Seperti tahun lalu, aku merencanakan liburan itu sejak Februari, kupersiapkan jadwal cuti, tiket pulang pergi, akomodasi, memesan tiket Ramayana Ballet Prambanan (kuanggap paling wajib) dan informasi wisata lainnya.

Akhirnya, September lalu, aku dapat berlibur ke Jogja bersama adik laki-lakiku, Dwi.

Menginjakkan kaki pertama kali di Jawa, terkhusus lagi Jogja yang digadang-gadang "Istimewa" ini membuatku sedikit terharu (yaellahhhh lebay amat, Mas), tapi memang benar.

Seminggu di Jogja kami habiskan dengan menikmati keriuhan sepanjang pedestrian jalan Malioboro, banyak seniman jalanan yang kece. Mencicipi kuliner khas Jogja yang sayang sekali tidak cocok dengan lidah Medan-ku karena terasa serba manis. Terkesima dengan keramah-tamahan orang-orang Jogja, sedikit tertawa geli menontoni orang-orang mengobrol dengan aksen Jawa yang kental (maaf, bukan bermaksud yang tidak-tidak). Melihat dari dekat kreativitas anak muda Jogja dalam mengolaborasi sentuhan etnik Jawa dan modern.

Mengaso di sekitaran Malioboro.
Melihat kilas balik kehidupan masyarakat Jogja di masa Hindia Belanda melalui Museum Benteng Vredeburg. Mengunjungi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, salah satu "Kerajaan" yang masih eksis di era modern ini, lalu mengadem ke Taman Sari. Masuk ke museum-museum di Jogja, seperti Museum Sonobudoyo dan Museum Affandi.

Di salah satu bangunan di Musuem Benteng Vredeburg.
Di dalam Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Taman Sari.
Museum Affandi.
Mengaso di angkringan sekitar Tugu Jogja, lalu mencoba kopi jos dan nasi kucing yang nyaampunnnnhhh sedikit sekali, "Mas, nambah 5 bungkus lagi ya!".

Kurang lengkap rasanya ke Jogja tanpa mengunjungi candi-candi, kami pun memutuskan untuk ke Candi Borobudur melewati jalur Muntilan agar bisa singgah di Candi Mendut terlebih dahulu, entahlah rute kami ini benar atau tidak, semua kami percayakan kepada Google Maps.

Maruk lihat candi untuk pertama kalinya, Candi Mendut.
Parahnya (mencoba mencari diksi yang tepat untuk menggantikan kata "bikin malu"), sebagai anak Sumatera yang hampir enggak pernah lihat candi. Pertama kali melihat Candi Mendut sudah merasa takjub luar biasa. Kekagumanku akan Candi Mendut ambyar sesaat setelah memasuki kompleks Candi Borobudur, dari kejauhan kemegahan Borobudur telah membiusku, aku melongo, tak henti-hentinya kurapalkan kekaguman atas kemegahan ciptaan Tuhan ini.

Berpose di Candi Borobudur.
Kemudian kami trekking melewati bukit-bukit ke Punthuk Setumbu yang kami salah waktu mengunjungi di siang hari yang terik, keindahan tempat ini ada pada matahari terbitnya. Kami pun berjalan terus menuju sebuah gereja unik di Bukit Rhema, orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan "Gereja Ayam" karena sekilas terlihat seperti bentuk ayam, padahal sebenarnya gereja ini menyerupai seekor merpati.
Gereja Ayam di Bukit Rhema.
Demi melengkapi kebutuhan akan vitamin-sea mengharuskan kami berkendaraan ke arah Selatan menuju pantai, yeayyyyy Pantai Parangtritis, walau enggak berani berenang. Kemudian menyambangi beberapa pantai lain yang aku lupa namannya, lalu singgah ke Gumuk Pasir yang cukup terkenal itu.

Puas mengobati penyakit kekurangan vitamin-sea, kami sengaja pulang mengambil rute memutar melewati Gunung Kidul agar dapat singgah ke Puncak Becici dan Hutan Pinus Pengger. Menyudahi hari dengan menemani matahari tenggelam di Puncak Becici merupakan pengalaman sunset yang sangat indah dalam hidupku. Menikmati keindahan lampu-lampu kota dari atas gunung. Lalu turun gunung dan mampir ke kedai kopi, Filosofi Kopi Jogja, sudah nonton filmnya kan?

Sunset di Puncak Becici.
Ngopi di Filosofi Kopi Jogja.
Satu hal yang tidak ingin aku lewatkan dari liburanku ke Jogja ini adalah untuk melihat Ramayana Ballet di Prambanan. Tiketnya pun telah kupesan jauh hari. Saat memesan tiket itu, aku tidak memperhatikan banyak hal termasuk hari dan sebagainya, aku hanya menyesuaikan dengan rencana perjalananku saja, dimana malam itu jadwalku masih kosong.

Sehabis Maghrib sekitar pukul 17.45, kami pun memacu motor yang kami sewa dari sebuah perusahaan rental kendaraan yang cukup ternama di Jogja, aku tahu karena saat sedang parkir di Malioboro aku menemukan banyak kendaraan dengan stiker yang sama dengan yang ada motor dan helm kami.

Sampai disana, kami menukarkan invoice booking dengan tiket masuk dan aku baru menyadari itu hari Kamis, malam Jum'at. Disebelah pintu masuk, ada pertunjukan kecil-kecilan beberapa orang yang sudah cukup sepuh memainkan gamelan, entah kenapa irama gamelan itu terdengar sangat sendu sekali. Adikku permisi ke toilet sebelum masuk, dan dia kembali dengan membisikkan aku sesuatu seakan hal itu sangat rahasia, "Di toiletnya ada bunga-bunga dan dupa gitu, serem aku lihatnya." Penasaran, aku pun ke toilet untuk mengecek, ternyata benar di toiletnya ada sesajian. Aku mencoba untuk berpikir positif saja.

Sebelum Pertunjukan Ramayana Ballet.
Ini merupakan hal pertama kali dalam hidupku. Pertunjukan dimulai tepat pukul 19.30, dengan latar belakang Candi Prambanan yang molek dengan pencahayaan putih kekuningan. Sementara di langit, tepat di belakang candi, bulan purnama bulat sempurna berwarna oranye kemerahan membangun suasana yang menggetarkan hati. Perpaduan yang sangat pas, latar belakang yang epik, aku merasa beruntung memilih hari itu. Sepanjang pertunjukan, aku mencoba membuang jauh pikiranku akan kemagisan malam itu. Sendratari itu pun berjalan dengan lancar dengan beberapa kejutan atraksinya, membuatku puas dan semakin takjub.

Keesokkan harinya, dengan berbekal rasa penasaran akan suasana magis yang dibangun oleh Prambanan malam itu, kami pun mengambil Paket Tour Prambanan - Keraton Ratu Boko, dengan diantar-jemput bus wisata kami menjelajahi Komplek Keraton Ratu Boko yang sangat luas dibawah terik matahari. Mengaso di bawah pohon di sekitar komplek keraton. Setelah puas dengan itu, kami pun menuju komplek Candi Prambanan, meresapi cerita tentang Prambanan dari pemandu. Terpesona oleh cerita di balik keanggunan Candi Prambanan. Menghabiskan sore di reruntuhan Candi Sewu, masih di komplek Candi Prambanan juga.

Keraton Ratu Boko.
Candi Prambanan.
Siluet Candi Sewu. Di Komplek Candi Prambanan.
Sisa dua hari di liburan kali itu, kami menikmatinya layaknya warga lokal, masuk mall, menyusuri jalan-jalan kecil disekitar keraton, belanja oleh-oleh untuk keluarga, naik becak dayung ke stasiun, naik kereta api Prameks ke Surakarta, Solo. Menyaksikan kehidupan berjalan begitu saja di depan mataku.

***

Setelah postinganku di sosial media itu, aku merunut segudang cerita dan pengalaman tersebut, mengingat rasa nikmat yang teramat hingga menyesakkan dada saat dalam pesawat perjalananku pulang ke Medan.

Rasa syukur atas sebuah perjalanan. Bukan tujuan. Apalagi hal-hal kecil yang terkadang mengecewakan. Kadang aku lupa bahwa keseluruhan perjalanan itu sendirilah yang harus aku syukuri.

Sekarang, aku hanya cukup memastikan apa yang kulakukan adalah yang terbaik, tak terlalu merisaukan apa yang terjadi kedepan, menikmati kini disini. Tanpa ekspektasi muluk-muluk yang hanya menimbulkan kegusaran dalam hati.

You Might Also Like

0 komentar