Sastrawan Indonesia di Kancah Internasional

2/24/2018 11:52:00 AM

Meskipun saat berkunjung ke toko buku, sering kali kita dapati jajaran buku terjemahan di rak BESTSELLER. Namun, sastrawan Indonesia juga cukup dikenal di kancah internasional. Tidak sedikit sastrawan Indonesia yang pernah mendapat penghargaan bergengsi dan bertaraf internasional.

Berikut ini adalah beberapa diantara banyaknya sastrawan Indonesia dengan karyanya yang sarat makna dan pesan sehingga dihargai dan dikenal dunia.

1. Pramoedya Ananta Toer


Siapa yang tak kenal dengan Pram? Salah satu sosok penting dalam dunia kesusastraan Indonesia. Karyanya yang paling fenomenal adalah Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) yang ditulis selama masa pembuangannya di Pulau Buru. Karyanya juga banyak yang dibakar oleh aparat karena dinilai membahayakan pemerintahan pada masa itu. Sepanjang hidupnya, Pram telah menulis lebih dari 50 buku dan diterjemahkan ke dalam 41 bahasa asing. Tak terhitung penghargaan yang telah diterimanya, salah satu yang bergengsi adalah Ramon Magsaysay Award, akan tetapi menuai banyak protes.

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."

2. NH Dini


Sastrawan feminis kenamaan yang terlahir dengan nama Nurhayati Sri Handini Siti Nukatin ini telah banyak menulis novel-novel laris diantaranya, Pada Sebuah Kapal, La Barka, Namaku Hiroko, Hati yang Damai, Padang Ilalang di Belakang Rumah, Sekayu, Langit dan Bumi Sahabat Kami dan masih banyak lagi. NH Dini juga masih aktif menulis, karya teranyarnya adalah Dari Parangakik ke Kampuchea pada tahun 2003. Atas karyanya beliau diganjar penghargaan SEA Write Award di bidang sastra.

“Dalam mengarang saya tidak pernah tergesa-gesa. Saya anggap pekerjaan mengarang adalah tugas yang santai, yang harus dikerjakan dengan senang hati. Kalau saya menulisnya dengan terburu-buru, berarti dengan hati yang kesal, maka dapat dipastikan bahwa si pembaca pun akan merasakannya.”

3. Ahmad Tohari


Salah satu karyanya yang monumental adalah Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang telah diadaptasi ke film layar lebar berjudul Sang Penari oleh Ifa Isfansyah. Karya-karya lainnya antara lain : Kubah, Belantik, Kumcer Nyanyian Malam dan masih banyak lagi. Tahun 1995, dia menerima Hadiah Sastra ASEAN, SEA Write Award.

"Bagaimana bisa, manusia tetap eksis ketika kemanusian telah mati?"

 4. Eka Kurniawan


Karyanya berjudul Lelaki Harimau berhasil masuk nominasi penghargaan bergengsi The Man Booker Prize. Tak ayal, ia disebut penulis kelas dunia dan disandingkan dengan penulis sekaliber Fyodor DostoevskyKaryanya antara lain : Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, dan Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, bahkan Cantik Itu Luka telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa asing. Tak hanya itu, Journal Foreign Policy juga menobatkannya sebagai salah satu Global Thinkers of 2015.

 "Bukan urusan manusia memikirkan Tuhan itu ada atau tidak, terutama jika kau tahu di depanmu manusia satu menginjak manusia yang lain."


5. Goenawan Mohammad


Sastrawan dengan nama asli Goenawan Soesatyo Mohammad ini merupakan salah satu pendiri Majalah Tempo dan sempat memimpin redaksi majalah ini selama dua periode. Tulisan Goenawan Mohammad yang paling populer dan terkenal adalah Catatan Pinggir (Caping), esai yang dimuat secara mingguan di Majalah Tempo. Ia dianugerahi Dan David Prize tahun 2006 karena kontribusinya dalam memperjuangkan kebebasan pers dan jurnalistik.



"Kegagalan kita untuk memaafkan, kesediaan kita untuk mengakui dendam, adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa. Pada akhirnya kita akan tahu bahwa kita bukan hakim yang terakhir... Di ujung sana, Tuhan lebih tahu."

P.S : Sumber semua foto diambil dari Google Images, karena belum (tidak) ada foto koleksi pribadi dengan beliau-beliau ini, hiks!

You Might Also Like

2 komentar

  1. baru tau NH Dini, yang lainnya tau, keliatan awak gak banyak baca buku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Bang. Beliau aktif di tahun 70-80an, belakangan udah jarang. Beloau ibu kandung dari sutradara film animasi Despicable Me, Pierre Coffin.

      Hapus