Blog M Jenjalan Wiken Ke Pasar Malam

3/05/2018 03:23:00 PM

Apa yang pertama kali terpikir olehmu ketika mendengar “Pasar Malam”? Apakah kenangan bersama keluarga? Kenangan masa kecil? Atau bisa jadi kisah cintamu, pernah janji temu dengan pacar disana dan menikmati malam diatas Komidi Putar misalnya? Eeaaa….

Pasar malam merupakan hiburan rakyat yang sudah sangat sulit dijumpai sekarang ini, apalagi di kota besar seperti Medan. Keberlangsungan hiburan jenis ini mulai tergerus perkembangan zaman dan teknologi, tapi terkadang masih diadakan di daerah-daerah desa atau perkampungan, itu pun dapat dihitung dengan jari.

Seperti Minggu lalu, aku berkesempatan bergabung dengan Komunitas BlogM yang mengadakan “Jalan-Jalan Bareng Bloger Medan” ke Pasar Malam MMTC, rangkaian dari kegiatan rutin BlogM Keroyokan, sebagai sarana silaturahmi sesama bloger Medan dan masyarakat umum yang berminat pada ranah kepenulisan blog, juga sebagai salah satu usaha mencapai tujuan BlogM, yaitu mem-Bloger-kan Kota Medan.

Sebagai generasi 90-an dan besar di perkampungan, aku jelas memiliki kenangan tersendiri, bahkan cukup sentimental dengan pasar malam. Mencari 'suaka' setelah berhari-hari berkutat dengan kebosanan menganggur. Ya, dua bulan lalu, aku memutuskan resign dari pekerjaan lamaku sebagai AR Controller di sebuah perusahaan distribusi produk. Curhat pula. Tapi bukan itu poinnya disini.

Berbekal 'kekhawatiran-atas-penerimaan' teman-teman baru dikenal di komunitas ini, pukul 5 sore tepat aku memantapkan langkah menuju meeting point yang sudah ditetapkan pengurus komunitas, di seputaran Lapangan Merdeka Medan tepatnya di depan Panin Bank. Disana sudah menunggu beberapa teman pengurus BlogM, rupanya aku satu-satunya orang di luar komunitas yang ikutan acara jalan-jalan ini. Iya, semakin canggung dong.


Tak lama kemudian, saat pukul 6 sore, setelah dianggap sudah cukup waktu menunggu dan mengumpulkan teman yang lain, kami pun bergerak ke tekape, setelah terlebih dahulu mampir di mesjid untuk menunaikan sholat Maghrib dan makan malam di sebuah warung di sekitaran situ. Anyway, makan disini murah banget, hanya 12rebu untuk seporsi nasi soto ayam dan teh pahit panas.


Setelah memarkirkan kendaraan dan bertemu dengan teman-teman lain yang telah lebih dulu sampai, kami pun mulai mengeksplorasi pasar malam ini. Aku sangat menikmati malam di penghujung pekan itu bersama beberapa teman yang bahkan baru kukenal.

Di sela-sela senda gurau dengan teman-teman, menikmati malam itu adalah satu-satunya pilihan yang tersedia. Aku sangat menikmati saat itu. Seperti memanggil masa lalu. Ada aku, anak kecil berumur 7 tahun di setiap sudut pasar malam dan di tawa riang anak kecil. Momen itu merupakan stimulator yang menjejali pikiranku dengan kenangan-kenangan semasa kecil. Kenangan tentang polosnya diri terkagum-kagum melihat megahnya Komidi Putar, bangga bak pangeran duduk diatas kuda-kudaan, mempercayai sepenuhnya atraksi potong kepala di wahana Rumah Hantu, serta gegap gempita kemeriahan hiburan lainnya.

Karena merasa tahu diri dan 'ingat umur' aku pun mengurungkan niat naik kuda-kudaan dan mobil-mobilan melayang, meskipun secara ukuran tubuh masih memungkinkan (tetap maksa, ngotot...). Kami pun hanya menjajal wahana wajib, yaitu Komidi Putar, saat kecil dulu aku menyebut 'Baling-Baling' dan wahana Kora-Kora berbentuk naga yang cukup membuat mual.



Setelah puas 'menyiksa diri sendiri', berkeliling mengitari area pasar malam yang cukup padat malam itu sambil sesekali mengabadikan momen memakai kamera henpon ala kadarnya. Sebelum menyudahi semua keriangan ini 'yang bagiku sebagai momen kontemplasi', kami pun tak lupa mengabadikan momen kebersamaan kami sendiri dengan berfoto bersama, cekrekkkkkk....

Difoto oleh Abang admin @taukotembung
Terima kasih kepada teman-teman Komunitas Bloger Medan atas kesempatan ini. Aku tutup dengan kutipan ala-alaku ya...

"Hidup itu seperti komidi putar. Berporos. Dipenuhi berbagai kemungkinan. Teruslah berusaha dan berdoa ketika kita berada di bawah. Juga perbanyaklah bersyukur ketika kita telah berada di atas. Bersyukur merupakan kewajiban, di posisi apapun kita berada, dalam segala kesukaran maupun keberlimpahan. Bismillah saja, nikmati prosesnya!"

You Might Also Like

7 komentar

  1. ampun naik perahu goyang goyang itu, bikin pening, macem naik bus awak peningnya kwkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mual awak, tapi seru sih. *gak-konsisten*

      Hapus
  2. naik perahu naga sama kincir nya min
    dijamin puyeng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Puyeng, Bang. Mabok laut (naik perahu) di darat ini namanya, xixixi...

      Hapus
    2. iya bang lupa minum obt mabuk bang wkwkwkwkw

      Hapus
  3. fokus pada curhat colongnangan yang dikit XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Soalnya ini serba pertama sih.
      Jadi malu ih sama curhatnya.

      Hapus