Pojok Literasi: Edukasi & Literasi Keuangan Tentang Financial Technology Bagi Milenial

3/30/2019 07:13:00 PM

"Tahun 2025 hingga tiga puluh tahun ke depan diprediksi menjadi puncak kejayaan (Golden Age) perekonomian bagi Indonesia. Mayoritas populasi penduduk Indonesia akan berada dalam usia produktif atau angkatan kerja, jumlahnya mencapai lebih dari tujuh puluh persen dari total populasi penduduk Indonesia (demographic divident). Jumlah yang sangat fantastis dengan potensi yang luar biasa besar. Sebagai perbandingan, pada masa puncak kejayaan ekonominya, pendapatan per kapita Jepang pernah menyentuh USD40.000, sepuluh kali lipat dari pendapatan per kapita Indonesia sekarang ini."

Saat ini, pemerintah Indonesia sadar dan berupaya keras mempersiapkan generasi muda ini---rentang usia yang disebut milenial---dengan berbagai  pelatihan, lokakarya usaha, serta pembekalan lainnya, termasuk peningkatan pemahaman akan literasi keuangan. Dengan harapan meningkatkan kesadaran milenial akan potensi, andil, serta kontribusi mereka untuk kemajuan perekonomian Indonesia di masa datang.
Pojok Literasi oleh Kemenkominfo dan OJK.
Dari sekian banyak usaha pemerintah, salah satu yang menarik adalah Pojok Literasi, forum diskusi ringan yang diselenggarakan oleh Direktorat Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim serta Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika. Forum ini berfokus pada edukasi perihal literasi keuangan bagi generasi milenial. Dan Medan sangat beruntung mendapat kesempatan menjadi kota pertama dimulainya forum ini, sebelum nantinya akan diadakan di kota-kota lain di Indonesia.

Kesadaran bahwa aku bukanlah orang yang bergelut di dunia ekonomi dan masih minim pengetahuan tentang perkembangan perekonomian di era digital adalah salah satu alasan yang membawaku ke Pojok Literasi yang dihelat pada Kamis, 21 Maret 2019 lalu di Café Potret, Jl. K. H. Wahid Hasyim.

Aku, beberapa teman blogger dan mahasiswa yang merupakan generasi milenial diundang menghadiri kegiatan Pojok Literasi yang bertajuk "Financial Technology Yang Ramah Bagi Milenial." Acara dibuka oleh pembawa acara, sambil diselingi hiburan musik dari Silvanada yang suara vokalisnya menyejukkan siang yang terik itu.

Tepat pukul 14.00 WIB, sesi awal dibuka dengan pemaparan latar belakang Pojok Literasi oleh Ibu Septriana Tangkary, Direktur IKPM Kemenkominfo selaku pelaksana dan penanggung jawab acara. Beliau menjelaskan, berdasarkan data agensi digital Amerika Serikat, we are social, tahun 2017 saja pengguna internet di Indonesia telah mencapai 132,7 juta pengguna dan akan terus meningkat seiiring dengan pelaksanaan proyek penanaman serat optik Palapa Ring di wilayah Barat dan Timur Indonesia.
Ibu Septriana Tangkary dan beberapa tamu undangan. (Sumber foto: WAG Pojok Literasi)
Beliau melanjutkan, berdasarkan laporan World Economic Forum, Indonesia diprediksi akan menjadi pasar digital terbesar di Asia Tenggara, dimana peluang keuangan digital akan pesat, diperkuat dengan kenyataan bahwa hanya 36% orang dewasa di Indonesia yang memiliki rekening bank, atau sekitar 120 juta orang masuk ke dalam kategori Unbanked.

Hal ini sangat kontradiktif, sambung Ibu Septriana Tangkary, mengingat 132,7 juta pengguna yang terhubung ke internet,  angka yang terus meningkat sejak 2014, dimana pengguna internet hanya sekitar 88 juta pengguna saat itu.

Guna mengatasi hal ini, pemerintah berupaya meningkatkan literasi keuangan melalui penyebarluasan informasi positif kepada seluruh lapisan masyarakat. Melalui Instruksi Presiden (Inpres) No. 9 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika, khususnya Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, ditunjuk untuk memegang tanggung jawab sebagai pelaksana diseminasi dan edukasi tersebut melalui seluruh saluran komunikasi yang tersedia.

Strategi yang dibangun melalui kegiatan creative talks yang menyasar anak muda/millenial ini adalah sebagai forum untuk mengembangkan wawasan dalam rangka meningkatkan pemahaman kaum millenial terhadap pemanfaatan financial technology.

"Untuk itu, Kementerian Komunikasi dan Informasi menyelenggarakan kegiatan Pojok Literasi ini dalam bentuk creative talks dan mengundang para mahasiswa dan blogger di kota Medan dengan harapan menjadi Agen Literasi Keuangan, atau ALIKA," jelas Ibu Septriana sebagai penutup materinya.

Pemaparan oleh Ibu Septriana Tangkary membuat Pojok Literasi semakin seru. Acara dilanjutkan ke sesi utama yang dimoderatori oleh founder Bloggercrony Community, Mbak Wardah Fajri atau biasa disapa Mbak Wawa. Mbak Wawa mengingatkan kembali secara gamblang fokus dari kegiatan Pojok Literasi dan pentinganya bagi milenial.
Mbak Wardah Fajri, moderator sekaligus founder Bloggercrony Community. (Sumber foto: WAG Pojok Literasi)
Moderator, Mbak Wawa dan ketiga narasumber. (Sumber foto: WAG Pojok Literasi)

Tak berpanjang kata, Mbak Wawa memperkenalkan para narasumber. Ibu Rosarita Niken Widyastuti selaku Sekjen Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Ibu Sondang Martha Samosir selaku Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, serta Mas Melvin Mumpuni CFP selaku Founder dan CEO Finansialku.

Ibu Rosarita Niken Widyastuti, biasa disapa Ibu Niken, menjelaskan fungsi dan tugas Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo yang tak hanya sebagai regulator, membuat regulasi, tetapi juga sebagai fasilitator dan akselerator. Salah satu contoh Kemenkominfo sebagai fasilitator adalah Program Seribu Startup, dimana 200 startup sudah sampai ke tahap inkubasi setelah melalui beberapa tahapan sejak dibuka pendaftaran tahun 2016 yang diikuti oleh 40.000 pendaftar.
Pemaparan materi oleh Ibu Rosarita Niken Widyastuti. (Sumber foto: WAG Pojok Literasi)
Sebagai fasilitator, Ibu Niken menambahkan, Kemenkominfo juga telah menyelenggarakan 1000 Digital Talent Schoolarship 2018, program pendidikan non degree selama dua bulan. Sebanyak 21.188 orang masuk ke dalam tahap seleksi dari 46.886 pendaftar. Kabar baiknya lagi, tahun 2019 pemerintah membutuhkan 20.000 digital talent melalui program serupa.

Sebagai akselerator, tutup Ibu Niken, Kemenkominfo bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan perihal otomatisasi perizinan.

Materi selanjutnya oleh Ibu Sondang. Beliau memulai dengan melempar pertanyaan,  sektor-sektor apa saja yang dilindungi oleh Otoritas Jasa Keuangan? Ada sektor industri keuangan non bank, apa saja yang termasuk di dalamnya?
Pemaparan materi oleh Ibu Sondang Martha Samosir. (Sumber foto: WAG Pojok Literasi)
Ibu Sondang menjelaskan, OJK melindungi sektor perbankan (baik konvensional maupun syariah), pasar modal, industri keuangan non bank (seperti asuransi, pegadaian, leasing), dan financial technology.

Financial Technology adalah layanan keuangan berbasis teknologi informasi. Ada beberapa kategori dalam fintech, yaitu: Payment (Card Payment, POS Payment, E-Money, E-Wallet), Crowdfunding, Capital Market, Digital Banking, serta Insurtech.

OJK menyusun pengaturan terkait usaha Fintech dan perlindungan konsumennya, seperti berikut di gambar:
Peraturan OJK terkait usaha Financial Technology. (Sumber: OJK)
Peraturan tersebut mengatur perusahaan Fintech untuk menerapkan aspek-aspek perlindungan konsumen dan mendorong pemahaman konsumen (literasi) terhadap fitur produk yang ditawarkan.

Apakah aman fintech sebagai instrumen investasi? Ibu Sondang menekankan, fintech lending dikatakan tepat dan aman sebagai investasi jika dan hanya jika berizin dan terdaftar di OJK. Saat ini terdapat 99 perusahan Fintech Lending yang berizin dan terdaftar di OJK. Fintech lending ini telah memenuhi aspek perlindungan konsumen dalam hal: transparansi, perlakuan yg adil, keandalan (keamanan data, keandalan sistem), kerahasiaan data, penyelesaian pengaduan dan sengketa, literasi dan inklusi keuangan dan perjanjian baku.

Sebelum memutuskan menginvestasikan dan atau meminjam dana dari Fintech Lending, tutup Ibu Sondang, kita harus mempelajari dua hal ini: LEGAL DAN LOGIS.

Baca juga: Tabungan Online SOBATKU (Salah satu contoh fintech yang terdaftar di OJK)

Materi dilanjutkan oleh Mas Melvin Mumpuni SFP, CEO finansialku.com, sebuah platform perencanaan keuangan yang berisi banyak artikel terkait literasi keuangan. Ada baiknya sebelum terjun ke bisnis fintech lending, belajarlah dari artikel-artikel di portal ini. Beliau menjelaskan transformasi transaksi keuangan dari masa ke masa. Dari konvensional hingga menerapkan artificial intelligence.

Sebagai perencana keuangan, Mas Melvin mengingatkan bahwa menabung harus memiliki anggaran tetap, disisihkan dari pendapatan, bukan sisa uang setelah bayar utang dan untuk kebutuhan sehari-hari. Beliau mengilustrasikan anggaran keuangan yang baik, dari total pendapatan/gaji, 10% untuk biaya sosial, 20% untuk tabungan, 30% untuk bayar utang, dan 40% untuk kebutuhan sehari-hari.
Foto bersama seluruh narasumber di akhir sesi. (Sumber foto: WAG Pojok Literasi)
***

Pojok Literasi siang itu sangat bernas, banyak sekali pelajaran yang didapatkan. Dari kegiatan ini, kita sadar dan harus mewaspadai bahwa fintech yang menawarkan kemudahan, ada juga kelemahan yang mesti diwaspadai.

Sebagai tambahan, Kemenkominfo  telah memblokir 211 fintech ilegal. Hubungi OJK 157 atau kunjungi website sikapiuangmu.ojk.go.id untuk informasi terkait fintech yang legal dan aman tentunya.
Foto bersama anggota Komunitas Blogger Sumatera Utara.



You Might Also Like

0 komentar